Inspirasi Pengembangan Diri & Kedamaian Hati

Cara Melatih Rasa Cukup Saat Semua Orang Flexing di Timeline

Cara Melatih Rasa Cukup Saat Semua Orang Flexing di Timeline (sumber foto: Vova Kras via pexels)
Cara Melatih Rasa Cukup Saat Semua Orang Flexing di Timeline (sumber foto: Vova Kras via pexels)

Fenomena flexing di timeline memang bukan hal baru tapi di era digital sekarang, flexing jadi lebih halus, lebih estetik, dan lebih sering muncul. Tidak selalu pamer uang secara terang-terangan, tapi lewat “day in my life”, “what’s in my bag yang harganya puluhan juta”, atau “gaji pertama langsung beliin orang tua ini”.

Tidak ada yang salah dengan flexing. Setiap orang berhak bangga dengan pencapaiannya. Yang jadi masalah adalah ketika kita yang menonton jadi lupa cara merasa cukup dengan hidup kita sendiri.

Kenapa Flexing di Timeline Bikin Kita Susah Merasa Cukup?

  1. Biasanya otak kita otomatis membandingkan. Ini namanya social comparison. Ketika melihat orang lain punya lebih, otak langsung membuat kesimpulan “aku kurang”. Padahal yang dibandingkan tidak apple to apple. Kamu membandingkan bab 2 hidupmu dengan bab 20 hidup orang lain.
  2. Flexing memicu rasa bersalah untuk bersyukur. Kamu jadi berpikir “aku sudah punya kerjaan, tapi kenapa aku masih iri? Aku kurang bersyukur ya?”. Akhirnya bukan hanya iri, tapi juga merasa bersalah karena iri. Dua emosi berat jadi satu.
  3. Flexing membuat standar cukup jadi naik terus. Dulu merasa cukup bisa beli kopi 18 ribu tanpa mikir. Sekarang setelah lihat orang flexing kopi 45 ribu tiap hari plus nongkrong di cafe estetik, kopi 18 ribu jadi terasa kurang keren. Padahal kebutuhanmu tidak berubah, hanya standarmu yang digeser oleh timeline.

Dampak Jika Terus Membiarkan Rasa Tidak Cukup Karena Flexing

  1. Jika dibiarkan, ada dampak yang pelan-pelan menggerogoti kesehatan mental Gen Z.
  2. Kamu jadi membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena ingin terlihat sama. Akhirnya keuangan berantakan demi validasi yang hanya bertahan 24 jam di story.
  3. Kamu juga jadi sulit menikmati pencapaian sendiri. Baru saja naik gaji 500 ribu, tapi setelah lihat orang naik gaji 5 juta, rasa senangmu langsung hilang. Padahal 500 ribu itu hasil kerja kerasmu selama berbulan-bulan.
  4. Hal yang paling parah, kamu jadi kehilangan arah. Kamu mengejar hal yang sebenarnya tidak kamu mau, hanya karena semua orang di timeline mengejarnya. Kamu kuliah jurusan yang tidak kamu suka, kerja di bidang yang tidak kamu nikmati, hanya karena terlihat keren di timeline.

Cara Melatih Rasa Cukup Saat Timeline Penuh Flexing

1. Bedakan Flexing Sebagai Informasi dan Flexing Sebagai Pemicu

Tidak semua flexing buruk. Ada flexing yang bisa jadi informasi dan motivasi. Misalnya ada yang flexing cara ngatur keuangan, cara dapat beasiswa, atau cara bangun bisnis dari nol. Itu bisa kamu jadikan pelajaran.

Tapi ada juga flexing yang murni pemicu rasa tidak cukup. Ciri-cirinya, setelah melihatnya kamu langsung merasa cemas, iri, dan ingin menghakimi diri sendiri. Untuk jenis ini, kamu perlu batas.

Caranya, buat daftar 3 akun yang setelah kamu lihat kontennya kamu selalu merasa tidak cukup. Mute selama 7 hari saja. Bukan unfollow selamanya, hanya beri jeda. Selama 7 hari itu, perhatikan perasaanmu. Apakah lebih tenang? Apakah lebih mudah bersyukur dengan hal kecil?

Biasanya setelah jeda, kamu akan sadar bahwa rasa tidak cukup itu bukan dari hidupmu, tapi dari terlalu sering melihat hidup orang lain.

2. Latihan Flexing Versi Diri Sendiri yang Jujur

Daripada sibuk melihat flexing orang lain, coba sesekali flexing untuk dirimu sendiri, tapi dengan versi yang jujur.

Tulis di notes HP tanpa perlu di-posting. “Hari ini aku flexing bisa masak telur tanpa gosong”, “hari ini aku flexing bisa nabung 20 ribu meskipun gaji mepet”, “hari ini aku flexing bisa nolak ajakan nongkrong karena memang capek dan butuh istirahat”.

Latihan ini membantu otak melihat bahwa hidupmu juga punya banyak hal yang layak dirayakan, meskipun tidak estetik dan tidak viral. Rasa cukup akan tumbuh dari kemampuanmu melihat kemenangan kecil yang sering kamu anggap biasa.

Lakukan setiap malam 3 poin flexing jujur. Lama-lama kamu tidak lagi butuh validasi dari timeline untuk merasa cukup.

3. Ganti Pertanyaan Dari “Apa yang Kurang?” Menjadi “Apa yang Sudah Cukup?”

Setiap kali muncul rasa tidak cukup setelah lihat flexing, jangan langsung scroll lagi. Berhenti sebentar dan ganti pertanyaannya.

Dari “kenapa aku belum bisa seperti dia?” menjadi “apa yang hari ini sudah cukup dan bisa aku hargai?”.

Misalnya setelah lihat orang flexing liburan ke Bali, kamu bisa bilang ke diri sendiri, “oke dia liburan ke Bali, aku hari ini cukup menikmati jalan sore ke alun-alun dan itu sudah bikin aku lumayan tenang”.

Kamu tidak menyangkal keinginan untuk liburan. Kamu hanya memilih untuk menghargai apa yang ada sekarang, sambil tetap menabung untuk keinginan nanti.

Rasa cukup bukan berarti tidak punya keinginan. Rasa cukup berarti kamu bisa mengejar keinginan tanpa membenci hidupmu yang sekarang.

Pada akhirnya, timeline akan selalu penuh dengan flexing. Akan selalu ada yang lebih kaya, lebih sukses, dan lebih bahagia terlihatnya. Jika kamu terus mengejar untuk sama seperti mereka, kamu akan lelah selamanya.

Tapi jika kamu melatih rasa cukup, kamu akan sadar bahwa hidup yang tenang tidak datang dari punya segalanya seperti orang di timeline. Hidup yang tenang datang dari kemampuan untuk bilang, “apa yang aku punya hari ini sudah cukup untuk aku jaga, aku nikmati, dan aku syukuri”.

Hari ini, coba scroll lebih pelan. Jika ada yang flexing, ucapkan dalam hati “ikut senang untuk dia, dan aku juga punya hal baik versiku sendiri”. Kalimat sederhana itu bisa menyelamatkan kesehatan mentalmu.