nikmatullah.com – Persaingan jualan online di Indonesia pada tahun 2026 semakin ketat. Dengan lebih dari 235 juta pengguna internet dan dominasi platform seperti Shopee dan TikTok Shop, banyak pelaku usaha yang mempertanyakan apakah berjualan di dua platform tersebut masih memberikan keuntungan atau sudah memasuki fase jenuh.
Berdasarkan laporan e-commerce Indonesia pada semester pertama tahun 2026, Shopee dan TikTok Shop tetap menjadi dua platform dengan jumlah pengguna aktif terbanyak. Shopee unggul dalam kategori marketplace dengan sistem pencarian dan logistik yang matang, sementara TikTok Shop unggul dalam kategori social commerce yang menggabungkan hiburan dan belanja. Namun, pertumbuhan jumlah penjual yang pesat membuat strategi jualan tidak bisa lagi hanya mengandalkan harga murah.
Kondisi Pasar Shopee dan TikTok Shop Tahun 2026
Memahami karakteristik masing-masing platform menjadi kunci untuk menilai peluang.
Shopee, Marketplace dengan Ekosistem Lengkap
Shopee pada tahun 2026 telah berkembang menjadi ekosistem yang mencakup Shopee Mall, Shopee Supermarket, Shopee Food, dan layanan pembayaran ShopeePay. Keunggulan Shopee terletak pada kepercayaan pembeli terhadap sistem garansi, gratis ongkir, dan program cicilan.
Jumlah penjual di Shopee terus bertambah, terutama dari segmen usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Kategori yang paling banyak dicari meliputi fashion, kecantikan, elektronik rumah tangga, dan kebutuhan harian. Persaingan harga menjadi tantangan utama, karena pembeli dapat dengan mudah membandingkan harga dari puluhan toko dalam waktu singkat.
TikTok Shop, Kekuatan Konten dan Live Streaming
TikTok Shop mengalami pertumbuhan pesat setelah integrasi kembali dengan Tokopedia. Pada tahun 2026, TikTok Shop menjadi platform yang sangat efektif untuk produk yang membutuhkan demonstrasi visual, seperti fashion, kosmetik, dan makanan ringan. Fitur live streaming dan video pendek memungkinkan penjual untuk menjelaskan produk secara langsung dan membangun kedekatan dengan pembeli.
Algoritma TikTok yang berbasis minat membuat produk dapat ditemukan oleh pembeli yang bahkan tidak sedang mencari secara aktif. Namun, penjual dituntut untuk konsisten membuat konten yang menarik dan relevan.
Apakah Masih Cuan di Tahun 2026?
Jawaban atas pertanyaan tersebut bergantung pada strategi yang digunakan, bukan hanya pada platformnya.
Faktor yang Membuat Masih Cuan
- Pertama, jumlah pengguna yang terus meningkat. Data APJII tahun 2026 mencatat bahwa 81,72 persen penduduk Indonesia sudah terhubung internet, dengan porsi terbesar mengakses berita ekonomi, gaya hidup, dan belanja online. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat besar.
- Kedua, perubahan perilaku konsumen yang masuk dalam kategori lazy economy. Konsumen lebih memilih berbelanja dari rumah dengan sistem pembayaran QRIS dan layanan antar yang cepat. Kebiasaan ini mendorong peningkatan transaksi harian meskipun nilainya kecil.
- Ketiga, adanya program pemerintah dan platform yang mendukung UMKM, seperti pelatihan digital, subsidi ongkir, dan program kredit usaha rakyat atau KUR yang dapat diajukan secara online.
Berdasarkan pengalaman yang pernah saya amati, toko yang fokus pada satu kategori produk yang spesifik, misalnya hanya menjual perlengkapan dapur minimalis atau hijab dengan bahan tertentu, cenderung memiliki tingkat pembelian ulang yang lebih tinggi dibandingkan toko yang menjual berbagai kategori secara acak.
Faktor yang Membuat Terlihat Jenuh
Di sisi lain, kejenuhan dirasakan oleh penjual yang tidak melakukan adaptasi. Persaingan harga yang sangat ketat membuat margin keuntungan semakin tipis. Biaya iklan di dalam platform juga meningkat, sehingga penjual perlu mengalokasikan anggaran promosi yang lebih besar.
Selain itu, pembeli pada tahun 2026 semakin cerdas dalam membandingkan ulasan, kualitas foto, dan kecepatan pengiriman. Toko dengan rating rendah atau respons yang lambat akan dengan cepat ditinggalkan.
Strategi Agar Tetap Cuan di Shopee dan TikTok Shop
Agar tetap kompetitif, penjual perlu menerapkan beberapa strategi yang relevan dengan kondisi tahun 2026.
1. Fokus pada Niche dan Branding
Hindari menjual terlalu banyak kategori yang tidak berhubungan. Pilih satu niche yang dikuasai dan bangun identitas merek yang jelas. Misalnya, gunakan nama toko yang mudah diingat, logo yang konsisten, dan deskripsi produk yang informatif.
2. Optimalkan Konten Visual
Di TikTok Shop, konten adalah kunci. Buat video pendek yang menunjukkan manfaat produk, cara penggunaan, dan testimoni pelanggan. Lakukan live streaming secara rutin dengan jadwal yang konsisten. Di Shopee, optimalkan foto produk dengan pencahayaan yang baik dan deskripsi yang menggunakan kata kunci yang relevan.
3. Manfaatkan Fitur Iklan Secara Bijak
Gunakan fitur iklan berbayar seperti Shopee Ads dan TikTok Promote dengan anggaran yang terukur. Mulailah dengan anggaran kecil, uji beberapa kata kunci, dan evaluasi hasilnya. Hindari mengandalkan iklan sepenuhnya tanpa memperbaiki kualitas toko.
4. Jaga Layanan Pelanggan
Kecepatan membalas chat, keakuratan stok, dan pengemasan yang rapi menjadi faktor penentu rating. Toko dengan rating di atas 4,8 memiliki peluang lebih besar untuk muncul di halaman pencarian teratas.
Berdasarkan pengalaman yang pernah saya coba, mencatat setiap pertanyaan pembeli yang sering muncul dan membuat template jawaban yang ramah namun tetap personal terbukti membantu mengurangi waktu respons dan meningkatkan kepercayaan pembeli.
5. Diversifikasi Saluran
Jangan hanya bergantung pada satu platform. Gunakan Shopee untuk penjualan berbasis pencarian dan TikTok Shop untuk penjualan berbasis konten. Selain itu, pertimbangkan untuk memiliki katalog di media sosial lain seperti Instagram untuk membangun komunitas.
Kesimpulan
Jualan di Shopee dan TikTok Shop pada tahun 2026 masih memberikan peluang keuntungan, namun tidak lagi semudah beberapa tahun lalu. Pasar belum jenuh secara keseluruhan, melainkan mengalami seleksi di mana penjual yang adaptif dan memiliki strategi yang jelas akan tetap bertahan dan berkembang. Dengan fokus pada niche, konten visual yang menarik, pengelolaan iklan yang bijak, serta layanan pelanggan yang baik, kedua platform tersebut masih dapat menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan bagi pelaku UMKM maupun penjual yang baru memulai.
