Pernah merasa hidupmu baik-baik saja di pagi hari, tapi setelah 20 menit scroll media sosial tiba-tiba merasa kurang sukses, kurang cantik, kurang kaya, dan kurang bahagia? Itu bukan kebetulan.
Ada yang bekerja diam-diam di balik layar. Namanya algoritma. Tugasnya sederhana, membuatmu betah scroll selama mungkin. Caranya, dengan membuatmu merasa tidak pernah cukup.
Algoritma media sosial tidak dirancang untuk membuatmu bersyukur. Algoritma dirancang untuk membuatmu membandingkan, merasa kurang, lalu mencari lagi. Karena ketika kamu merasa kurang, kamu akan scroll lagi untuk mencari solusi, inspirasi, atau validasi. Pelan-pelan tanpa sadar, rasa cukup kita terkikis.
Ada 3 cara kerja algoritma yang jarang disadari Gen Z
1. Algoritma Hanya Menampilkan 1 Persen Terbaik
Biasanya yang kamu lihat di For You Page atau Explore bukan kehidupan nyata orang lain. Itu adalah versi terbaik, paling estetik, dan paling mahal dari hidup mereka. Liburan yang di-posting setelah 100 kali foto, pencapaian yang di-posting setelah 3 tahun gagal, skincare yang terlihat glowing karena filter dan cahaya.
Otak kita tidak memproses itu sebagai konten pilihan. Otak memprosesnya sebagai standar normal. Jadi kita berpikir, semua orang hidupnya sebagus itu, hanya hidup kita yang biasa-biasa saja. Padahal kita sedang membandingkan behind the scene hidup kita dengan highlight hidup orang lain.
2. Algoritma Memberi Hadiah Lewat Dopamin Cepat
Setiap kali kamu mendapat like, komentar, atau melihat konten baru yang menarik, otak mengeluarkan dopamin. Rasanya senang sebentar, lalu hilang. Untuk mendapatkan senang lagi, kamu harus scroll lagi.
Siklus ini membuat rasa cukup jadi sangat singkat. Tadi sudah senang karena dapat 100 like, 10 menit kemudian tidak cukup lagi dan ingin 200 like. Tadi sudah senang beli baju baru karena lihat di TikTok, besok lihat tren baru dan merasa baju kemarin sudah tidak cukup keren.
Algoritma melatih otak untuk selalu mencari yang baru, bukan menghargai yang sudah ada. Inilah kenapa rasa bersyukur jadi sulit, karena otak terbiasa mengejar, bukan menikmati.
3. Algoritma Menciptakan FOMO Massal
FOMO atau Fear Of Missing Out adalah bahan bakar utama algoritma. Ketika kamu melihat semua teman nongkrong di tempat baru, semua orang pakai outfit baru, semua orang dapat kerja baru, algoritma akan terus menampilkan itu berulang-ulang.
Lama-lama kamu merasa jika tidak ikut, kamu akan ketinggalan dan tidak berharga. Kamu membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena takut dianggap ketinggalan zaman. Kamu nongkrong bukan karena ingin, tapi karena takut tidak dianggap asyik. FOMO membuat rasa cukup mustahil, karena definisi cukup terus digeser oleh apa yang sedang viral hari ini.
Dampaknya Jika Dibiarkan Terus-Menerus
Jika dibiarkan, ada 3 dampak nyata yang sering dialami Gen Z tanpa sadar.
- Kelelahan mental. Karena merasa tidak pernah cukup, kamu memaksa diri untuk terus produktif, terus beli, terus ikut tren. Tubuh dan pikiran jadi lelah, tapi tidak tahu kenapa.
- Rasa syukur yang tumpul. Hal kecil yang dulu bikin bahagia seperti makan enak di kos, ngobrol santai sama teman, atau hari tanpa drama, jadi terasa biasa saja. Karena standar bahagia sudah setinggi konten viral yang kamu lihat setiap hari.
- Kehilangan jati diri. Kamu mulai tidak tahu apa yang sebenarnya kamu mau. Semua keinginan terasa seperti keinginanmu, padahal banyak yang hanya ditempelkan oleh algoritma dari konten yang kamu tonton 5 detik lalu.
3 Cara Melindungi Rasa Cukup dari Algoritma
Kamu tidak harus menghapus semua media sosial. Kamu hanya perlu lebih pintar dari algoritma.
1. Sadari Pola Algoritmamu Sendiri
Coba cek selama 3 hari, konten apa yang paling sering membuatmu merasa tidak cukup setelah melihatnya? Apakah konten flexing gaji, konten pasangan romantis, atau konten glow up fisik?
Setelah tahu polanya, latih algoritmamu. Caranya, tekan tombol not interested, mute, atau pilih see less untuk jenis konten itu. Dan sebaliknya, banyak berinteraksi dengan konten yang bikin kamu merasa cukup, seperti konten edukasi santai, humor, atau hobi yang kamu suka.
Algoritma itu buta, dia hanya mengikuti apa yang kamu tonton lama. Jika kamu melatihnya, perlahan timeline mu akan lebih sehat.
2. Buat Aturan Jeda Sebelum Beli atau Membandingkan
Setiap kali setelah scroll dan muncul rasa ingin beli atau merasa kurang, buat aturan jeda 24 jam. Jangan langsung check out, jangan langsung insecure.
Tulis di notes HP, “aku merasa kurang karena baru lihat apa tadi?”. Biasanya setelah 24 jam, rasa itu hilang sendiri. Kamu akan sadar bahwa rasa tidak cukup itu bukan dari kebutuhanmu, tapi dari konten yang baru kamu lihat.
Aturan jeda ini sangat ampuh untuk menghemat uang dan menjaga kesehatan mental.
3. Kembalikan Rasa Cukup Lewat Dunia Nyata
Setiap hari, beri waktu 30 menit tanpa layar untuk melakukan hal yang bikin kamu merasa cukup secara fisik. Misalnya makan tanpa HP, jalan sore keliling komplek tanpa earphone, beres-beres kos sambil dengerin musik pelan, atau ngobrol langsung sama teman tanpa membahas media sosial.
Aktivitas offline ini membantu otak keluar dari siklus dopamin cepat dan kembali merasakan kebahagiaan yang pelan tapi bertahan lama. Kebahagiaan yang tidak perlu likes untuk terasa nyata.
Pada akhirnya, algoritma memang pintar, tapi kamu bisa lebih pintar. Algoritma bisa mengatur apa yang muncul di HP mu, tapi tidak bisa mengatur bagaimana kamu memaknai hidupmu.
Rasa cukup bukan berarti kamu tidak mengikuti zaman. Rasa cukup berarti kamu tahu kapan harus mengikuti tren dan kapan harus berhenti dan bilang, untuk hari ini, hidupku yang sekarang sudah cukup untuk aku jaga dan syukuri.
Hari ini, coba buka galeri HP mu dan lihat foto-foto biasa yang tidak pernah kamu posting. Foto makanan yang agak blur, foto langit sore dari kos, foto ketawa jelek bareng teman. Di sana ada banyak alasan untuk merasa cukup yang tidak pernah dilihat algoritma.