Ikuti Saluran WhatsApp Syadir Ali Dapatkan tulisan, renungan & informasi terbaru

nikmatullah – Dulu kalau bos tawarkan promosi jadi kepala bagian, hampir semua orang langsung bilang ya tanpa pikir panjang. Sekarang tidak lagi. Di banyak kantor, ada cerita karyawan yang menolak jadi manajer, ada yang minta tetap jadi staf senior saja, bahkan ada yang turun jabatan dari manajer kembali jadi staf karena tidak tahan beban.

Fenomena ini terjadi di milenial yang sudah kerja 8 sampai 15 tahun dan Gen X yang sudah di posisi menengah. Alasannya sama: jabatan tinggi sering berarti jam panjang, stres tinggi, dan hidup pribadi hilang, sementara kenaikan gaji tidak sebanding.

Bukan karena mereka tidak mampu atau tidak mau maju, tapi karena mereka sudah hitung betul apa yang didapat dan apa yang hilang.

Hitungan jam kerja yang tidak masuk akal

Posisi staf biasa di banyak kantor jam kerjanya 08.00 sampai 17.00 dengan istirahat 1 jam. Total 8 jam kerja efektif. Lembur kadang ada, tapi tidak tiap hari.

Begitu naik jadi supervisor atau manajer, jam kerja jadi tidak jelas. Datang paling pagi, pulang paling malam. Rapat pagi jam 7, rapat sore sampai jam 7 malam, malam masih harus balas chat grup tim. Hari Sabtu yang seharusnya libur, masih harus cek laporan atau datang karena ada masalah di lapangan.

Banyak manajer muda cerita jam kerja mereka 10 sampai 12 jam sehari. Dari jam 7 pagi sampai 7 malam di kantor, lanjut jam 9 malam masih buka laptop di rumah.

Kalau dihitung, staf kerja 40 jam seminggu. Manajer bisa kerja 55 sampai 65 jam seminggu. Selisih 15 sampai 25 jam. Itu setara dengan 2 sampai 3 hari kerja tambahan tanpa dibayar lembur karena jabatan manajerial biasanya tidak dihitung lembur.

Kenaikan gaji dari staf ke manajer di banyak perusahaan 15 sampai 30 persen. Misal staf 6 juta jadi manajer 7,5 juta, naik 1,5 juta. Tapi kalau dibagi dengan tambahan jam kerja 20 jam seminggu atau 80 jam sebulan, tambahan 1,5 juta itu artinya 18.750 per jam tambahan. Lebih kecil dari upah lembur staf.

Milenial yang sudah punya anak dan Gen X yang mulai jaga kesehatan melihat hitungan ini dan memilih tidak ambil. Mereka bilang, saya lebih butuh waktu 20 jam itu untuk antar anak sekolah, untuk olahraga, untuk tidur cukup, daripada uang tambahan 1,5 juta.

Stres yang tidak terlihat di slip gaji

Jabatan tinggi tidak hanya tambah jam, tapi tambah stres yang tidak ada di deskripsi lowongan.

1. Tanggung jawab atas kesalahan orang lain

Staf bertanggung jawab atas kerjaannya sendiri. Manajer bertanggung jawab atas kerjaan 5 sampai 10 orang. Kalau 1 anggota tim salah, manajer yang dimarahi bos. Kalau tim tidak capai target, manajer yang harus jelaskan dan cari solusi. Beban mental ini berat, apalagi kalau timnya baru dan banyak yang perlu dibimbing.

2. Harus siap jadi penengah konflik

Manajer sering jadi penengah kalau ada konflik antar anggota tim atau antara tim dengan divisi lain. Harus bisa jaga perasaan semua orang sambil tetap capai target. Kemampuan ini tidak diajarkan di sekolah, tapi harus dimiliki. Banyak manajer yang stres karena harus jadi psikolog dadakan tanpa bekal.

3. Selalu siap dihubungi

Budaya kerja di banyak kantor masih menganggap manajer harus selalu on. Grup WhatsApp kerja aktif jam 10 malam, ada masalah mesin jam 6 pagi hari Minggu harus respon. Batasan antara kerja dan hidup pribadi hilang. Padahal kesehatan mental butuh batas yang jelas. Sustained mental wellness atau upaya menjaga kestabilan emosi jangka panjang butuh waktu istirahat yang benar-benar istirahat.

Gen X yang sudah mengalami burnout sekali biasanya tidak mau terulang. Mereka tahu burnout ditandai kelelahan fisik, mental, dan emosional ekstrem akibat stres berkepanjangan. Pemulihannya butuh 3 sampai 6 bulan, tidak bisa hanya dengan libur 2 hari. Jadi mereka lebih hati-hati menjaga batas.

Alasan milenial dan Gen X tolak promosi, cerita dari lapangan

Ada beberapa alasan yang sering diungkapkan saat menolak promosi:

Pertama, sudah cukup dengan gaji sekarang. Milenial yang sudah menikah dan punya cicilan rumah biasanya sudah hitung kebutuhan. Kalau gaji sekarang cukup untuk cicilan, sekolah anak, dan nabung 1 juta per bulan, mereka tidak merasa perlu kejar gaji lebih besar dengan mengorbankan waktu bersama anak. Waktu anak kecil hanya sekali, jabatan bisa dicari nanti.

Kedua, ingin fokus ke side hustle yang lebih menghasilkan dan lebih menyenangkan. Banyak milenial yang kerja utama sebagai staf, tapi sore buka usaha kecil seperti jual makanan, jasa desain, atau jadi admin online shop. Usaha sampingan ini kadang penghasilannya hampir sama dengan kenaikan gaji manajer, tapi jamnya bisa diatur sendiri dan kepuasannya lebih tinggi karena milik sendiri.

Ketiga, kesehatan sudah mulai protes. Gen X umur 40 ke atas banyak yang mulai punya keluhan darah tinggi, kolesterol, atau susah tidur karena stres kerja. Dokter menyarankan kurangi stres dan tidur cukup. Jabatan tinggi dengan jam panjang justru melawan saran dokter. Jadi mereka pilih tetap di posisi yang jamnya lebih terkontrol.

Keempat, tidak suka politik kantor. Jabatan tinggi sering harus ikut rapat politik, harus dekat dengan pimpinan tertentu, harus pintar jaga citra. Banyak pekerja yang lebih suka kerja teknis yang hasilnya jelas, daripada kerja politik yang hasilnya tergantung siapa yang dekat dengan siapa. Mereka lebih nyaman jadi ahli di bidangnya daripada jadi manajer yang harus main politik.

Menolak promosi bukan berarti berhenti berkembang

Menolak promosi tidak sama dengan malas. Banyak yang menolak promosi manajerial tapi tetap berkembang sebagai ahli.

Contohnya, staf IT yang menolak jadi manajer IT tapi memilih jadi senior engineer dengan gaji yang hampir sama dengan manajer karena keahliannya langka. Atau staf keuangan yang menolak jadi kepala cabang tapi jadi spesialis pajak yang banyak dicari dan bisa kerja freelance dengan bayaran tinggi.

Perkembangan karir sekarang tidak hanya vertikal ke atas jadi manajer, tapi juga horizontal menjadi lebih ahli di satu bidang. Jalur ahli ini sering disebut individual contributor. Gaji bisa sama tinggi dengan manajer, tapi jam kerja lebih terkontrol dan stres lebih rendah.

Perusahaan yang peka sekarang mulai buka dua jalur karir: jalur manajerial dan jalur ahli. Karyawan bisa pilih mau jadi manajer yang kelola orang atau jadi ahli yang kelola keahlian, dengan gaji yang setara. Ini membantu menahan karyawan berbakat yang tidak mau jadi manajer tapi tetap ingin gaji naik.

Cara menolak promosi dengan sopan tanpa merusak hubungan

Kalau kamu ditawari promosi tapi merasa belum siap atau tidak mau karena alasan jam panjang, kamu bisa tolak dengan cara profesional:

1. Ucapkan terima kasih dulu atas kepercayaan.
2. Jelaskan alasan pribadi yang jujur tapi singkat, misal “Saat ini saya sedang fokus mendampingi anak yang masih kecil dan butuh jam yang lebih pasti, saya khawatir kalau jadi manajer tidak bisa maksimal”.
3. Tawarkan solusi, misal “Saya tetap bisa bantu bimbing 2 staf baru sebagai senior tanpa harus jadi manajer” atau “Saya bisa ambil peran ahli di proyek X”.
4. Tetap tunjukkan komitmen kerja baik di posisi sekarang.

Kebanyakan atasan yang baik akan menghargai kejujuran daripada menerima promosi lalu 3 bulan kemudian burnout dan resign.

Jabatan tinggi dengan jam panjang dan stres tinggi bukan satu-satunya jalan sukses. Bagi milenial dan Gen X yang sudah merasakan kerasnya kerja 10 tahun lebih, sukses sekarang berarti punya kendali atas waktu, bisa pulang tepat waktu, bisa tidur nyenyak, dan tetap bisa bayar cicilan tanpa harus sakit. Itu bukan kalah, itu pilihan yang sadar.