Pergaulan anak tidak lagi hanya terjadi di sekolah atau di lingkungan rumah karena dengan adanya media sosial, pergaulan anak bisa terjadi kapan saja dan dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang belum pernah ditemui secara langsung.
Di satu sisi, media sosial membuka banyak kesempatan baik. Anak bisa belajar, menemukan teman dengan hobi yang sama, dan mendapatkan informasi yang bermanfaat. Namun di sisi lain, jika tidak dijaga, pergaulan di media sosial bisa membawa pengaruh yang kurang baik bagi karakter anak.
Tugas orang tua bukan melarang anak sepenuhnya dari media sosial, karena itu hampir tidak mungkin di zaman sekarang. Tugas orang tua adalah mendampingi agar anak tetap aman dan bijak dalam bergaul.
1. Kenali Dengan Siapa Anak Berteman di Dunia Maya
Banyak orang tua tahu dengan siapa anak bermain di sekolah, tapi tidak tahu dengan siapa anak berinteraksi di media sosial. Padahal pertemanan online sama pentingnya untuk diperhatikan.
Luangkan waktu untuk bertanya dengan santai, siapa saja teman yang sering berinteraksi dengan anak di media sosial. Apa saja yang mereka bicarakan dan konten seperti apa yang sering mereka bagikan.
Jangan bertanya dengan cara menginterogasi. Cukup ajak ngobrol ringan, misalnya “Akhir-akhir ini lagi seru main sama siapa di online?” Dengan begitu anak tidak merasa diawasi, tapi merasa diperhatikan.
Semakin orang tua mengenal lingkaran pergaulan anak di dunia maya, semakin mudah untuk memberi arahan jika ada pertemanan yang kurang sehat.
2. Ajarkan Batasan Sehat dalam Bergaul Online
Anak perlu diajarkan bahwa tidak semua hal harus dibagikan di media sosial. Ada batasan antara kehidupan pribadi dan kehidupan publik.
Ajarkan anak untuk tidak mudah membagikan informasi pribadi seperti alamat rumah, jadwal sekolah, foto yang tidak pantas, atau masalah keluarga di media sosial. Jelaskan bahwa apa yang sudah diunggah di internet akan sulit untuk ditarik kembali.
Ajarkan juga untuk tidak mudah percaya dengan orang asing yang baru dikenal di media sosial. Tidak semua orang yang terlihat baik di profil adalah orang yang benar-benar baik. Anak perlu diajarkan untuk berhati-hati dan selalu berdiskusi dengan orang tua jika ada orang baru yang mengajak bertemu atau meminta sesuatu yang aneh ajari anak untuk membangun batasan yang sehat akan membuat anak lebih aman dan tidak mudah dimanfaatkan.
3. Jadilah Tempat Curhat yang Aman dan Nyaman
Anak yang merasa nyaman bercerita kepada orang tua akan lebih mudah terbuka jika mengalami masalah dalam pergaulannya, termasuk perundungan online atau ajakan yang tidak baik.
Jika anak bercerita bahwa dia diejek di grup atau ada teman online yang berkata kasar, jangan langsung menyalahkan anak atau langsung marah. Dengarkan dulu dengan tenang, pahami perasaannya, baru kemudian bantu mencari solusi bersama.
Katakan, “Terima kasih sudah cerita ke Ayah/Ibu. Pasti rasanya tidak enak ya mengalami itu. Yuk kita cari cara menghadapinya bersama.”
Ketika anak merasa bahwa orang tua adalah tempat curhat yang aman, dia tidak akan mencari pelarian atau solusi yang salah di luar rumah.
4. Berikan Contoh Pergaulan yang Baik di Media Sosial
Anak belajar dari contoh. Jika orang tua sendiri sering berkomentar kasar di media sosial, suka membicarakan orang lain di grup, atau menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, anak akan menganggap itu adalah hal yang wajar.
Tunjukkan bagaimana cara bergaul yang baik di media sosial. Berkomentar dengan sopan, menghargai perbedaan pendapat, tidak ikut menyebarkan gosip, dan menggunakan media sosial untuk hal-hal yang positif.
Ajak anak untuk bersama-sama membuat konten yang bermanfaat, mengikuti akun-akun yang edukatif, atau menggunakan media sosial untuk belajar hal baru. Dengan begitu, anak belajar bahwa media sosial bukan hanya tempat untuk bergaul, tapi juga tempat untuk tumbuh.
Menjaga pergaulan anak di era media sosial memang tidak mudah. Orang tua tentu tidak bisa jika harus mengawasi selama 24 jam penuh. Yang bisa dilakukan adalah membangun kepercayaan, memberikan pemahaman tentang batasan, dan terus mendampingi dengan kasih sayang.
Tujuan akhirnya bukan membuat anak takut dengan media sosial, tapi membuat anak bijak dalam menggunakannya. Anak yang bijak dalam bergaul, baik di dunia nyata maupun di dunia maya dan akan lebih mampu menjaga dirinya sendiri bahkan ketika orang tua tidak ada di sampingnya.