Ikuti Saluran WhatsApp Syadir Ali Dapatkan tulisan, renungan & informasi terbaru

nikmatullah – Jawabannya bisa, tapi tidak dengan cara mengerjakan dua pekerjaan dalam satu waktu yang sama. Banyak yang gagal karena mencoba membalas chat pembeli online sambil menghitung uang kembalian pembeli warung. Hasilnya dua-duanya berantakan. Pembeli warung merasa tidak dilayani, pembeli online merasa dibalas lama.

Yang berhasil adalah mereka yang membuat sistem giliran. Warung dan toko online dijaga dari tempat yang sama, tetapi fokusnya bergantian. Saat warung ramai, toko online di-pause sebentar. Saat warung sepi, toko online yang dikebut. Dengan pola seperti ini, satu orang bisa memegang dua sumber pemasukan tanpa harus tutup salah satu.

1. Kenali Pola Sepi Ramai Warung Kamu Sendiri

Setiap warung punya pola yang berbeda tergantung lokasinya. Warung di dekat sekolah ramai jam 6 pagi dan jam 12 siang. Warung di dalam perumahan ramai jam 7 pagi dan jam 5 sore. Warung di dekat pabrik ramai saat jam istirahat pabrik. Kamu harus mencatat pola warung kamu sendiri selama 3 hari.

Catat di kertas kecil setiap jam berapa pembeli datang paling banyak. Setelah 3 hari kamu akan melihat jam sepi yang konsisten. Biasanya jam sepi adalah jam 10 sampai jam 12 siang dan jam 2 sampai jam 4 sore. Pada jam sepi inilah waktu emas untuk mengurus toko online.

Manfaatkan jam sepi untuk tiga hal yaitu membalas chat yang menumpuk, mengemas paket, dan membuat konten foto produk baru. Jangan gunakan jam sepi untuk rebahan atau menonton TV karena begitu masuk jam ramai warung, kamu tidak akan punya waktu lagi untuk online.

Untuk jam ramai warung, aktifkan fitur libur atau auto reply di marketplace. Di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop ada fitur balasan otomatis yang bisa diatur. Tulis balasan seperti halo kak, chat akan dibalas jam 11 siang setelah jam ramai warung selesai, terima kasih sudah menunggu. Dengan begitu pembeli online tahu kapan akan dibalas dan tidak merasa diabaikan.

2. Satu Rak, Dua Fungsi

Kunci agar tidak pusing stok adalah menjual barang yang sama di warung dan di online. Jangan jual barang yang berbeda total. Misal di warung kamu jual mie instan, kopi, sabun, dan tisu. Barang-barang ini juga bisa dijual di toko online dalam bentuk paketan.

Contohnya paket 5 mie instan plus 5 kopi sachet harga 25 ribu. Paket seperti ini laku di toko online karena pembeli kos atau pekerja rantau suka membeli paketan hemat. Stoknya diambil dari rak warung yang sama. Kamu tidak perlu modal tambahan untuk stok online.

Jika ingin menjual produk yang tidak ada di warung seperti baju, jilbab, atau aksesoris, letakkan di dalam box plastik tertutup di kolong meja warung. Beri label yang jelas seperti stok online jangan dijual ecer di warung. Tujuannya agar tidak tertukar. Saat ada pesanan online, kamu tinggal ambil dari box tersebut tanpa mengacak rak warung.

Selalu sisakan stok pengaman. Jika stok fisik mie tinggal 10, di toko online tulis stok 6 saja. Selisih 4 adalah pengaman agar jika ada pembeli warung yang tiba-tiba membeli 4 mie sekaligus, toko online tidak kehabisan dan tidak perlu membatalkan pesanan.

3. Bikin Meja Packing Mini di Samping Etalase

Banyak yang menunda packing karena harus masuk rumah dulu, mencari lakban, mencari kardus. Waktu habis untuk bolak balik. Akibatnya pesanan online baru dipacking malam hari padahal kurir sudah lewat.

Solusinya buat meja packing mini di dalam warung itu sendiri. Cukup meja lipat kecil 50×50 cm yang di atasnya ada kardus kecil, lakban, gunting, dan spidol. Di bawah meja ada keranjang untuk paket yang sudah jadi dan siap diambil kurir.

Saat warung sepi, kamu bisa langsung packing di meja tersebut sambil tetap melihat warung. Jika ada pembeli datang, tinggal berdiri dan melayani, setelah itu lanjut packing lagi. Pembeli warung yang melihat aktivitas packing justru sering penasaran dan bertanya kamu jualan apa di online. Ini bisa menjadi promosi gratis dari mulut ke mulut.

Untuk resi, tidak perlu printer mahal. Cukup tulis manual dengan spidol besar atau gunakan kertas thermal yang ditempel. Yang penting nama penerima dan alamat jelas. Jika pesanan sudah di atas 10 paket per hari, baru pertimbangkan beli printer thermal kecil seharga 350 ribuan agar lebih cepat.

4. Atur Kurir dan Uang Agar Tidak Tercampur

Masalah lain adalah kurir datang tidak terjadwal dan uang hasil jualan online tercampur dengan uang warung. Akibatnya tidak tahu untung rugi yang sebenarnya.

Atur dengan kurir langganan untuk jam jemput yang tetap. Misal setiap hari jam 14.00. Beri tahu kurir bahwa di atas jam 14.00 paket baru akan diambil besok. Dengan begitu kamu punya target waktu. Semua paket harus selesai di-packing sebelum jam 14.00. Setelah itu fokus kembali ke warung sore.

Untuk keuangan, pisahkan dua dompet atau dua e-wallet. Uang hasil warung masuk ke dompet fisik atau e-wallet pertama untuk belanja kulakan warung. Uang hasil toko online masuk ke e-wallet kedua untuk modal kulakan barang online dan untuk biaya packing. Jangan dicampur di satu tempat. Jika tercampur, kamu akan merasa untung padahal modal warung terpakai untuk belanja online.

Setiap malam, catat di buku tulis kecil dua kolom. Kolom kiri omzet warung, kolom kanan omzet online. Cukup tulis angka total tanpa rinci. Dalam seminggu kamu sudah bisa melihat mana yang lebih menghasilkan dan jam berapa yang paling menguntungkan.

Jaga toko online sambil jaga warung bukan tentang bisa multitasking, tetapi tentang membuat jadwal giliran yang jelas, menjual barang yang stoknya sama, menyiapkan meja packing di dalam warung, dan memisahkan jam kurir serta keuangan. Jika empat hal ini dijalankan, warung tetap buka, toko online tetap jalan, dan kamu tidak perlu memilih salah satu.