nikmatullah – Buka platform lowongan kerja sekarang, cari lowongan dengan kata remote atau kerja dari rumah. Lihat jumlah pelamarnya. Rata-rata pelamarnya 200 sampai 400 orang dalam 2 hari. Bandingkan dengan lowongan onsite di gedung dengan gaji sama, pelamarnya 70 sampai 100 orang. Selisihnya hampir 3 kali lipat.
Data ini bukan kebetulan. Laporan dari Forbes dan platform kerja global mencatat pekerjaan remote dilamar 3 kali lebih banyak daripada pekerjaan onsite dengan gaji yang sama. Di Indonesia trennya sama, lowongan dengan tulisan remote, hybrid, atau jam fleksibel mendapatkan pelamar 2 sampai 3 kali lebih banyak.
Kenapa pekerja sekarang lebih memilih remote meski gaji kadang sedikit lebih kecil? Jawabannya bukan karena malas ke kantor, tapi karena mereka sudah hitung berapa harga waktu commuting dan fleksibilitas yang hilang.
Waktu commuting yang tidak dibayar tapi menguras tenaga
Commuting adalah waktu perjalanan dari rumah ke kantor dan kembali. Di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, commuting rata-rata 1 sampai 2 jam sekali jalan. Artinya 2 sampai 4 jam sehari habis di jalan.
2 jam sehari terlihat kecil, tapi kalau dihitung seminggu: 2 jam x 5 hari = 10 jam. Sebulan 40 jam. Setahun 480 jam. Itu setara dengan 20 hari penuh yang habis hanya untuk di jalan, tidak dibayar, tidak produktif, dan bikin lelah.
Biaya commuting juga besar. Bensin motor 15 ribu per hari x 22 hari kerja = 330 ribu sebulan. Belum parkir 5 ribu per hari = 110 ribu. Total 440 ribu sebulan hanya untuk sampai ke kantor. Kalau naik kendaraan umum, biaya bisa 20 ribu sampai 35 ribu per hari, sebulan 440 ribu sampai 770 ribu. Belum lagi kalau hujan, macet 3 jam, dan sampai kantor sudah lelah.
Pekerja yang remote menghemat 40 jam dan 440 ribu sampai 770 ribu itu. Waktu 40 jam bisa dipakai untuk tidur tambahan 1 jam tiap hari, untuk olahraga 3 kali seminggu, untuk antar anak sekolah tanpa buru-buru, atau untuk usaha sampingan 2 jam tiap sore.
Banyak pekerja bilang, setelah merasakan remote 2 tahun saat pandemi, mereka tidak mau kembali ke commuting 2 jam. Bukan karena manja, tapi karena sudah merasakan hidup dengan waktu yang lebih terkontrol lebih sehat.
Fleksibilitas yang dicari bukan kebebasan malas
Salah paham tentang remote work adalah dianggap pekerja jadi santai, kerja sambil rebahan, tidak produktif. Padahal fleksibilitas yang dicari pekerja bukan kebebasan untuk tidak kerja, tapi kebebasan untuk mengatur kapan kerja paling efektif.
Contoh fleksibilitas yang dihargai:
1. Bisa kerja jam 7 pagi sampai jam 3 sore, lalu jam 3 sampai 5 sore antar anak les dan masak, lanjut lagi jam 8 malam 1 jam untuk selesaikan laporan. Total jam kerja tetap 8 jam, tapi disebar sesuai kebutuhan keluarga.
2. Bisa kerja dari rumah saat anak sakit, tanpa harus ambil cuti. Anak tetap terjaga, kerja tetap jalan, tidak perlu bingung titip anak ke siapa.
3. Bisa atur lingkungan kerja sendiri. Ada yang lebih fokus kerja di kamar yang sepi, ada yang lebih fokus di kafe pagi. Di kantor open plan yang bising, banyak pekerja justru tidak fokus karena banyak interupsi.
Fleksibilitas ini membuat pekerja bisa menjaga sustained mental wellness, yaitu upaya jangka panjang menjaga kestabilan emosi dan keseimbangan hidup. Dengan fleksibilitas, pekerja bisa tidur cukup, bisa olahraga, bisa makan siang di rumah yang lebih sehat, dan bisa punya waktu istirahat yang benar-benar istirahat tanpa diganggu perjalanan jauh.
Remote work tidak cocok untuk semua, tapi banyak yang butuh
Remote work memang tidak cocok untuk semua jenis pekerjaan. Pekerjaan yang butuh mesin besar, yang harus ketemu pelanggan langsung seperti kasir, perawat, atau teknisi lapangan tetap harus onsite.
Tapi untuk pekerjaan digital seperti admin toko online, desain grafis, penulisan artikel, customer service online, programmer, dan penerjemah, remote sangat mungkin dan bahkan lebih produktif.
Perusahaan yang peka sekarang tidak memaksakan semua karyawan onsite 5 hari. Mereka pakai sistem hybrid: 2 hari di kantor untuk rapat dan kolaborasi, 3 hari remote untuk kerja fokus. Atau sistem core hours: wajib online jam 10 sampai jam 3 untuk rapat, sisanya fleksibel mau kerja jam berapa.
Sistem ini membuat lowongan mereka lebih menarik. Pelamar yang berkualitas yang sudah punya keluarga dan tinggal agak jauh dari kantor lebih memilih perusahaan hybrid daripada perusahaan yang wajib onsite 5 hari dengan gaji 500 ribu lebih besar.
Cara dapat kerja remote tanpa tertipu lowongan palsu
Karena peminatnya banyak, lowongan remote palsu juga banyak. Ada yang minta bayar dulu untuk dapat kerja, ada yang minta data pribadi berlebihan. Berikut cara aman cari remote:
1. Cari di platform resmi seperti LinkedIn, Glints, dan Jobstreet dengan filter remote. Cek profil perusahaan, apakah ada website resmi, alamat jelas, dan ulasan karyawan.
2. Jangan pernah bayar untuk dapat kerja. Perusahaan asli tidak minta uang pendaftaran, uang seragam, atau uang training di awal. Kalau diminta bayar, tinggalkan.
3. Siapkan portofolio digital. Untuk kerja remote, perusahaan tidak bisa lihat kamu kerja langsung, jadi mereka lihat hasil kerja. Simpan hasil desain, tulisan, atau laporan di Google Drive yang rapi. Cantumkan link di CV.
4. Latih komunikasi tertulis. Kerja remote banyak komunikasi via chat dan email, bukan tatap muka. Biasakan menulis laporan singkat dan jelas, membalas chat dengan sopan dan tepat waktu, dan menyampaikan kendala dengan jujur.
5. Atur ruang kerja di rumah. Tidak perlu ruangan mewah, cukup meja kecil, kursi yang nyaman, dan internet yang stabil. Beri tahu keluarga jam berapa kamu kerja agar tidak diganggu. Ini membantu kamu tetap produktif dan tidak campur antara waktu kerja dan waktu keluarga.
Kenapa perusahaan tetap butuh pertimbangkan remote
Bagi perusahaan, membuka lowongan remote bukan hanya soal ikut tren. Ada manfaat nyata: bisa dapat talenta dari luar kota besar tanpa harus bayar biaya relokasi, karyawan lebih betah dan jarang resign karena dapat fleksibilitas, dan biaya kantor bisa lebih kecil.
Tentu perusahaan butuh sistem untuk jaga produktivitas: target harian yang jelas, rapat mingguan singkat, dan alat kerja seperti Google Workspace atau Trello. Bukan mengawasi lewat kamera, tapi mengukur dari hasil.
Pekerja yang melamar remote 3 kali lebih banyak bukan karena mereka tidak mau kerja keras. Mereka hanya ingin kerja kerasnya tidak habis di jalan, tapi dipakai untuk hal yang lebih berarti: keluarga, kesehatan, dan tabungan.
