Ikuti Saluran WhatsApp Syadir Ali Dapatkan tulisan, renungan & informasi terbaru

nikmatullah – Fenomena resign cepat setelah 3 bulan kerja semakin sering terjadi di tahun 2026. Jika dulu orang tua kita bisa bertahan bertahun-tahun di satu perusahaan meski tidak nyaman, anak muda sekarang lebih berani bilang, saya resign. Banyak yang menganggap ini manja atau tidak tahan banting. Padahal kalau ditanya lebih dalam, ada alasan yang sangat masuk akal di balik keputusan resign setelah 3 bulan itu.

Bukan karena malas, bukan karena ingin pengangguran, tapi karena ada ketidaksesuaian yang baru terasa setelah masuk ke dalam. Masa 3 bulan pertama adalah masa probation atau masa percobaan, di mana perusahaan menilai karyawan, tapi sebenarnya karyawan juga sedang menilai perusahaan. Dan dari penilaian itulah banyak yang memutuskan untuk pergi.

Ini 5 alasan paling sering kenapa anak muda resign setelah 3 bulan kerja

1. Job Desk Tidak Sesuai dengan yang Dijanjikan Saat Interview

Ini adalah alasan nomor satu yang paling banyak dikeluhkan. Saat interview, HRD bilang kerjanya adalah sebagai admin media sosial, membuat konten kreatif dan strategi. Tapi begitu masuk, ternyata disuruh juga jadi customer service yang balas chat komplain 24 jam, disuruh jadi kurir antar barang, bahkan disuruh bersihkan kantor.

Banyak lowongan di tahun 2026 yang menuliskan lowongan dengan kalimat, dicari orang yang mau belajar dan bisa multitasking, yang artinya satu orang mengerjakan 3 pekerjaan dengan gaji satu orang. Anak muda yang baru lulus mungkin tidak berani protes di bulan pertama, mereka coba jalani. Tapi setelah 2 sampai 3 bulan, mereka sadar kalau ini bukan pekerjaan yang mereka lamar, dan tidak ada tanda-tanda akan ada tambahan orang atau gaji naik.

Rasa kecewa ini yang bikin mereka memilih resign. Mereka merasa ditipu. Daripada bertahan dengan pekerjaan yang tidak jelas batasnya, lebih baik keluar lebih cepat sebelum terlanjur nyaman dengan gaji tapi stres setiap hari.

2. Atasan yang Tidak Memberi Arahan Jelas dan Komunikasi Buruk

Alasan kedua bukan soal gaji, tapi soal atasan langsung. Banyak anak muda resign bukan karena perusahaannya jelek, tapi karena atasannya yang membuat tidak betah.

Contohnya, atasan yang tidak pernah memberi arahan jelas. Disuruh bikin laporan, tapi tidak dikasih contoh, tidak dikasih tahu tujuannya untuk apa. Setelah jadi, dimarahi karena salah. Atau atasan yang hanya memberi perintah lewat chat singkat seperti, kerjain yang kemarin ya, tanpa menjelaskan yang kemarin itu yang mana.

Di era kerja hybrid dan remote, komunikasi yang buruk dari atasan sangat fatal. Anak muda butuh feedback, butuh tahu apakah kerjaannya sudah benar atau salah. Jika selama 3 bulan mereka hanya dibiarkan bingung sendiri tanpa mentoring, mereka akan merasa tidak berkembang. Mereka berpikir, kalau 3 bulan saja sudah seperti ini, bagaimana 1 tahun ke depan? Akhirnya mereka memilih mencari tempat yang atasannya lebih mau membimbing.

3. Budaya Kerja yang Tidak Sehat dan Jam Kerja Tidak Jelas

Banyak perusahaan masih menerapkan budaya kerja lama yang tidak sehat, seperti harus lembur tanpa dibayar, tidak boleh istirahat tepat waktu, atau harus selalu on di grup WhatsApp sampai jam 10 malam. Saat interview dibilang jam kerja jam 9 sampai jam 5, tapi kenyataannya jam 7 malam masih disuruh meeting mendadak.

Anak muda di tahun 2026 dan 2027 sangat menghargai batas antara kerja dan hidup pribadi atau work-life balance. Bukan karena mereka malas, tapi karena mereka sadar kesehatan mental itu penting. Jika dalam 3 bulan pertama mereka sudah harus lembur terus tanpa kompensasi, tidak punya waktu untuk keluarga, dan selalu cemas saat akhir pekan karena takut ada chat kerja, mereka akan cepat burnout.

Burnout ringan yang muncul di bulan ketiga seperti susah tidur, mudah marah, dan tidak semangat berangkat kerja adalah sinyal bahaya. Daripada menunggu sampai sakit, banyak yang memilih untuk resign lebih awal. Mereka lebih memilih gaji sedikit lebih kecil tapi jam kerja jelas dan dihargai.

4. Gaji yang Tidak Transparan dan Tidak Ada Jenjang Karier

Saat melamar, banyak perusahaan yang tidak mencantumkan gaji dengan jelas, hanya menulis gaji nego atau gaji sesuai pengalaman. Setelah diterima, ternyata gaji di bawah UMR, atau potongannya banyak yang tidak dijelaskan di awal seperti potongan keterlambatan, potongan seragam, potongan BPJS yang tidak dibayarkan.

Selain gaji, tidak adanya jenjang karier yang jelas juga jadi alasan. Selama 3 bulan, mereka bertanya ke senior, Kak, kalau di sini naik jabatannya bagaimana? Jawabannya selalu tidak tahu, tergantung bos, atau sudah 2 tahun di sini gaji segitu-gitu saja. Anak muda butuh kepastian, mereka ingin tahu jika kerja keras, ada harapan untuk naik gaji atau naik posisi.

Jika dalam 3 bulan mereka melihat tidak ada orang yang naik jabatan, tidak ada training, dan semua senior terlihat pasrah, mereka akan berpikir bahwa tempat itu bukan tempat untuk tumbuh. Lebih baik resign di bulan ketiga daripada bertahan 2 tahun dengan nasib yang sama.

5. Merasa Tidak Cocok dengan Nilai Pribadi dan Ingin Mencoba Hal Lain

Alasan terakhir yang sering tidak terlihat adalah soal kecocokan nilai. Banyak anak muda sekarang yang bekerja bukan hanya untuk uang, tapi untuk makna. Mereka ingin kerja yang sesuai dengan minat, misalnya peduli lingkungan, peduli pendidikan, atau ingin kerja yang kreatif.

Jika mereka masuk ke perusahaan yang ternyata nilai-nilainya bertolak belakang, misalnya perusahaan yang tidak jujur ke pelanggan atau yang memperlakukan karyawan dengan tidak adil, mereka akan merasa tidak nyaman secara batin. Rasa tidak cocok ini biasanya baru terasa setelah 1 sampai 2 bulan melihat langsung budaya di dalam.

Selain itu, di usia 22 sampai 25 tahun, banyak yang masih dalam fase eksplorasi. Mereka baru sadar setelah 3 bulan kerja sebagai admin, ternyata mereka lebih suka jadi desainer atau content creator. Daripada memaksakan diri di jalur yang salah, mereka memilih resign dan mencoba jalur lain selagi masih muda dan belum punya banyak tanggungan. Resign setelah 3 bulan dianggap lebih baik daripada menyesal setelah 5 tahun.

Resign setelah 3 bulan kerja bukan berarti gagal atau tidak profesional. Itu adalah bagian dari proses mencari tempat kerja yang tepat. Perusahaan yang baik akan memahami bahwa 3 bulan probation adalah masa saling mengenal, dan jika tidak cocok, perpisahan dengan baik-baik adalah hal yang wajar. Bagi anak muda yang sedang mengalami ini, jangan merasa bersalah. Evaluasi apa yang tidak cocok, pelajari pelajarannya, dan cari tempat yang lebih menghargai kamu. Pengalaman 3 bulan itu tetap berharga untuk langkah selanjutnya.