nikmatullah.com – Kemudahan layanan digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia pada tahun 2026. Mulai dari pesan makanan, belanja harian, hingga pembayaran, semua dapat dilakukan tanpa harus keluar rumah. Fenomena ini dikenal sebagai lazy economy atau ekonomi mager, yang di satu sisi memberikan kenyamanan, namun di sisi lain berpotensi menguras keuangan secara perlahan.
Laporan perilaku konsumen pada tahun 2026 menunjukkan bahwa generasi muda menghabiskan rata-rata 6 hingga 7 jam per hari di depan layar ponsel, dengan sebagian besar waktu digunakan untuk mengakses aplikasi layanan antar, belanja online, dan dompet digital. Layanan seperti GoFood, GrabFood, Shopee, Tokopedia, serta sistem pembayaran QRIS membuat transaksi menjadi sangat mudah, sehingga pengeluaran kecil yang berulang sering kali tidak disadari.
Apa Itu Lazy Economy?
Lazy economy merupakan istilah untuk menggambarkan aktivitas ekonomi yang didorong oleh keinginan untuk melakukan segala sesuatu dengan usaha seminimal mungkin.
Definisi dan Karakteristik
Konsep ini muncul seiring dengan meningkatnya penetrasi internet, smartphone, dan layanan logistik. Konsumen tidak perlu lagi pergi ke pasar, restoran, atau bank. Cukup dengan beberapa ketukan di layar, makanan datang dalam 30 menit, barang belanja tiba keesokan harinya, dan tagihan terbayar secara otomatis.
Di Indonesia, lazy economy berkembang pesat karena didukung oleh infrastruktur logistik yang semakin baik, promo yang agresif, serta budaya digital yang kuat di kalangan Generasi Z dan Milenial.
Data Perilaku Konsumen
Beberapa survei pada tahun 2026 mencatat bahwa pengeluaran untuk layanan antar makanan dan belanja online meningkat 15 hingga 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran yang terlihat kecil, seperti Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per transaksi, jika dilakukan setiap hari dapat terakumulasi menjadi Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan tanpa disadari.
Dampak Positif dan Negatif
Seperti dua sisi mata uang, lazy economy memberikan manfaat sekaligus tantangan.
Dampak Positif
Dari sisi positif, lazy economy memberikan efisiensi waktu yang signifikan. Pekerja yang memiliki jam kerja panjang dapat menghemat waktu perjalanan dan menggunakannya untuk beristirahat atau bersama keluarga. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM juga mendapatkan akses pasar yang lebih luas melalui platform digital.
Selain itu, sistem pembayaran digital seperti QRIS dan e-wallet membantu pencatatan keuangan menjadi lebih transparan dibandingkan transaksi tunai.
Dampak Negatif: Dompet Bocor Halus
Dampak negatif yang paling sering dirasakan adalah pengeluaran yang tidak terkontrol. Karena proses pembayaran sangat mudah dan sering kali disertai promo gratis ongkir atau diskon, konsumen cenderung melakukan pembelian impulsif.
Berdasarkan pengalaman yang pernah saya amati, kebiasaan memesan kopi seharga Rp35 ribu setiap hari melalui aplikasi antar makanan terlihat sepele, namun dalam sebulan jumlahnya dapat mencapai lebih dari Rp1 juta, belum termasuk biaya layanan dan ongkos kirim.
Selain itu, gaya hidup mager dapat mengurangi aktivitas fisik. Kebiasaan duduk terlalu lama dan kurang bergerak berpotensi memengaruhi kesehatan jangka panjang jika tidak diimbangi dengan olahraga rutin.
Mengapa GoFood dan Shopee Begitu Menarik?
Terdapat beberapa faktor psikologis dan praktis yang membuat layanan ini sulit dihindari.
1. Kemudahan dan Kecepatan
Aplikasi dirancang untuk memberikan pengalaman yang sangat mudah. Mulai dari rekomendasi berbasis algoritma, pembayaran satu klik, hingga estimasi waktu tiba yang akurat, semua memberikan rasa nyaman dan kepastian.
2. Strategi Promo dan Gamifikasi
Platform belanja online sering menggunakan strategi promo seperti flash sale, gratis ongkir, cashback, dan koin. Strategi ini mendorong pengguna untuk terus membuka aplikasi dan melakukan pembelian, meskipun barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.
3. Pengaruh Media Sosial
Tren unboxing, review makanan, dan rekomendasi dari influencer membuat konsumen lebih mudah tergoda untuk mencoba produk baru. Fenomena fear of missing out atau FOMO turut memperkuat perilaku konsumtif.
Strategi Mengelola Lazy Economy agar Tetap Sehat Finansial
Agar kenyamanan tidak berubah menjadi beban keuangan, diperlukan strategi pengelolaan yang bijak.
1. Buat Anggaran Khusus untuk Belanja Online
Pisahkan anggaran untuk kebutuhan pokok, hiburan, dan belanja online. Misalnya, tetapkan batas mingguan untuk pesan antar makanan sebesar Rp150 ribu. Dengan adanya batas, pengeluaran menjadi lebih terkontrol.
2. Terapkan Aturan 24 Jam
Sebelum melakukan pembelian yang tidak mendesak, tunda selama 24 jam. Jika setelah 24 jam barang tersebut masih terasa dibutuhkan, barulah lakukan pembelian. Metode ini efektif untuk mengurangi pembelian impulsif.
3. Manfaatkan Fitur Pencatatan Keuangan
Banyak aplikasi dompet digital dan mobile banking yang menyediakan ringkasan pengeluaran bulanan. Gunakan fitur tersebut untuk melihat kategori pengeluaran terbesar dan melakukan evaluasi.
Berdasarkan pengalaman yang pernah saya coba, mencatat setiap transaksi GoFood dan Shopee selama satu bulan penuh membantu saya menyadari bahwa 30 persen pengeluaran ternyata berasal dari jajan dan ongkos kirim, sehingga saya mulai memasak lebih sering di rumah.
4. Seimbangkan dengan Aktivitas Fisik
Untuk mengimbangi gaya hidup mager, jadwalkan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki 30 menit sehari atau olahraga di rumah. Beberapa aplikasi bahkan menyediakan pengingat untuk bergerak setelah duduk terlalu lama.
5. Kombinasikan dengan Tren Downgrade Lifestyle
Tren downgrade lifestyle yang viral pada tahun 2026 menekankan pada kesederhanaan dan pengelolaan keuangan yang lebih bijak. Misalnya, membuat kopi sendiri di rumah, membawa bekal, atau berbelanja mingguan di pasar tradisional dapat menjadi alternatif yang lebih hemat.
Kesimpulan
Lazy economy yang didorong oleh layanan seperti GoFood dan Shopee merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang tidak dapat dihindari pada tahun 2026. Kemudahan yang ditawarkan memberikan efisiensi waktu dan akses yang luas bagi konsumen dan pelaku UMKM. Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, kebiasaan mager dapat menyebabkan pengeluaran bocor halus dan berdampak pada kesehatan finansial maupun fisik. Dengan menetapkan anggaran, menerapkan aturan tunda beli, memanfaatkan pencatatan keuangan, dan menyeimbangkan dengan aktivitas fisik, konsumen dapat tetap menikmati kenyamanan teknologi tanpa harus mengorbankan kondisi keuangan.
