Harga Emas Antam Tembus Rp 2,6 Juta Lagi: Saatnya Jual atau Borong?

Nikmatullah
Harga Emas Antam Tembus Rp 2,6 Juta
Harga Emas Antam Tembus Rp 2,6 Juta Lagi: Saatnya Jual atau Borong? (Sumber foto: Michael Steinberg via pexels)
Ikuti Saluran WhatsApp Syadir Ali Dapatkan tulisan, renungan & informasi terbaru

Harga emas Antam kembali mendekati level psikologis Rp 2,6 juta per gram setelah sempat terkoreksi lebih dari 6 persen sepanjang September 2026 lalu, pergerakan ini tentu membuat banyak pemilik emas bertanya apakah ini waktu yang tepat untuk menjual atau justru menambah koleksi.

Mengapa Harga Kembali Menguat di Awal Oktober 2026

Penguatan kali ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor global yang saling berkaitan, data inflasi Amerika Serikat yang dirilis lebih rendah dari perkiraan membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober turun drastis dari 69 persen menjadi sekitar 31 persen.

Ketika ekspektasi suku bunga melunak maka daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga menjadi meningkat kembali, di sisi lain harga emas dunia juga bertahan kuat di kisaran US$ 4.182 per troy ounce setelah sempat tertekan oleh imbal hasil obligasi AS yang menyentuh 5,34 persen dan indeks dolar yang masih kuat di level 101.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih melihat emas sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian, bukan hanya sebagai komoditas biasa.

Apa Arti Level Rp 2,6 Juta Bagi Investor Ritel

Level Rp 2,6 juta bukan sekadar angka, level tersebut menjadi penanda bahwa permintaan fisik di dalam negeri masih sangat tinggi, terbukti dari harga buyback Antam yang ikut naik Rp 30 ribu menjadi Rp 2,405 juta per gram dalam satu hari.

Bagi yang sudah membeli di harga bawah Rp 2,4 juta tentu kenaikan ini memberikan keuntungan yang cukup menarik untuk merealisasikan profit, tetapi bagi yang berorientasi jangka panjang level ini belum tentu menjadi puncak.

Proyeksi dari BMO Capital Markets bahkan menaikkan target jangka panjang emas dari US$ 3.100 menjadi US$ 4.000 per troy ounce dengan target kuartal keempat 2026 di US$ 4.650, proyeksi ini didorong oleh aksi borong bank sentral global dan permintaan kuat dari China terkait isu penurunan nilai mata uang. Artinya tren bullish emas secara fundamental masih terjaga meski dalam jangka pendek masih fluktuatif.

Keputusan menjual semua emas saat harga naik atau memborong banyak saat harga turun karena FOMO adalah dua kesalahan yang sering dilakukan pemula, pendekatan yang lebih bijak adalah menjaga proporsi.

Pertama tentukan tujuan, jika emas disiapkan untuk dana darurat atau kebutuhan dalam waktu dekat maka taking profit sebagian di level Rp 2,6 juta adalah langkah yang logis.

Kedua jika tujuan adalah untuk 5 sampai 10 tahun ke depan maka strategi dollar cost averaging jauh lebih aman, yaitu membeli rutin setiap bulan dengan nominal tetap tanpa peduli harga harian, cara ini akan meratakan harga beli dan mengurangi risiko salah timing.

Ketiga pahami bahwa idealnya porsi emas dalam portofolio hanya 10 sampai 20 persen, bukan 100 persen, dengan begitu ketika saham atau obligasi turun maka emas bisa menjadi penyeimbang.

Dengan strategi tersebut level Rp 2,6 juta tidak perlu disikapi dengan panik, melainkan sebagai pengingat bahwa diversifikasi tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kekayaan.