Kesehatan Mental Gen Z: Kenapa Mudah Cemas dan Cara Mengatasinya

Nikmatullah
Kesehatan Mental Gen Z
Kesehatan Mental Gen Z: Kenapa Mudah Cemas dan Cara Mengatasinya (Sumber foto: RDNE Stock via pexels)
Ikuti Saluran WhatsApp Syadir Ali Dapatkan tulisan, renungan & informasi terbaru

Isu kesehatan mental menjadi topik yang sangat dekat dengan Gen Z. Dibandingkan generasi sebelumnya, Gen Z jauh lebih terbuka untuk membicarakan kecemasan, stres, dan rasa tidak aman yang dirasakan. Namun di sisi lain, Gen Z juga tercatat sebagai generasi yang paling rentan mengalami gangguan kecemasan.

Bukan karena Gen Z lemah atau manja, tapi karena tekanan yang dihadapi memang jauh berbeda. Dunia yang serba cepat, tuntutan untuk selalu produktif, dan perbandingan hidup di media sosial membuat otak terus bekerja tanpa henti.

Kenapa Gen Z Lebih Mudah Cemas?

Ada beberapa faktor utama yang membuat Gen Z lebih mudah merasa cemas dibandingkan generasi lain.

  1. Memperoleh tekanan informasi yang berlebihan. Dalam satu hari, Gen Z bisa menerima ratusan informasi dari TikTok, Instagram, Twitter, hingga berita online. Mulai dari berita PHK, harga naik, standar kesuksesan di usia muda, sampai konten motivasi yang kadang justru bikin tertekan. Otak dipaksa memproses semuanya sekaligus, padahal kapasitasnya terbatas. Akibatnya muncul rasa cemas, overthinking, dan sulit tidur.
  2. Hustle culture yang masih kuat. Sejak usia kuliah, banyak Gen Z sudah dituntut untuk punya penghasilan sendiri, punya portofolio keren, dan terlihat sukses sebelum usia 25. Media sosial memperparah ini dengan menampilkan kisah orang yang umur 20 tahun sudah punya bisnis, sudah beli rumah, atau sudah keliling dunia. Padahal perjalanan hidup setiap orang berbeda, tapi perbandingan itu terus terjadi tanpa sadar.
  3. Kurangnya ruang aman untuk bercerita. Meskipun Gen Z terlihat paling terbuka soal mental health, kenyataannya masih banyak yang memendam sendiri karena takut dianggap lebay atau drama. Akhirnya kecemasan dipendam, tidak disalurkan, dan menumpuk jadi beban yang lebih berat.

Jika dibiarkan terus-menerus, cemas yang tidak dikelola bisa berdampak pada kesehatan fisik. Mulai dari sakit kepala, asam lambung naik, sulit konsentrasi, hingga kehilangan semangat untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Cara Mengatasi Cemas yang Sering Dialami Gen Z

Mengatasi cemas tidak harus langsung ke hal besar. Justru kebiasaan kecil yang konsisten jauh lebih efektif untuk jangka panjang.

1. Batasi Konsumsi Informasi dan Media Sosial

Langkah pertama yang paling sederhana adalah memberi jarak dari sumber kecemasan. Tidak semua informasi harus kita serap setiap hari. Coba atur waktu khusus untuk buka media sosial, misalnya 2 jam di siang dan 1 jam di malam hari, bukan setiap 5 menit scroll.

Mematikan notifikasi aplikasi yang tidak penting juga sangat membantu. Kamu tidak harus selalu update 24 jam. Ketinggalan satu tren tidak akan membuat hidup berantakan. Justru dengan memberi jeda, otak punya waktu untuk istirahat dan lebih fokus pada hal yang ada di depan mata.

2. Tulis Apa yang Kamu Rasakan

Kecemasan sering terasa besar karena semuanya menumpuk di kepala. Salah satu cara paling ampuh untuk mengurainya adalah dengan menulis jurnal. Tidak perlu jurnal aesthetic yang ribet, cukup tulis apa adanya di notes HP.

Tulis 3 hal yang membuat kamu cemas hari ini dan 1 hal kecil yang bisa kamu lakukan untuk mengatasinya. Contohnya, jika cemas karena tugas menumpuk, tulis langkah terkecilnya: buka laptop dan kerjakan 15 menit saja. Dengan menulis, pikiran yang awalnya abstrak jadi lebih jelas dan lebih ringan.

Kebiasaan menulis jurnal syukur sebelum tidur juga terbukti menurunkan kecemasan. Tulis 3 hal sederhana yang kamu syukuri hari itu, sekecil apapun itu.

3. Fokus Pada Hal yang Bisa Kamu Kendalikan

Salah satu penyebab cemas terbesar adalah terlalu memikirkan hal yang di luar kendali. Kita tidak bisa mengontrol omongan orang lain, algoritma media sosial, atau masa depan yang belum terjadi.

Yang bisa kita kontrol adalah hal-hal kecil di hari ini. Seperti jam tidur, makanan yang masuk, siapa yang kita ikuti di media sosial, dan bagaimana kita berbicara pada diri sendiri.

Mulailah dengan membuat rutinitas pagi yang sederhana. Bangun tanpa langsung cek HP, minum air putih, rapikan tempat tidur, dan jalan kaki 10 menit. Rutinitas kecil ini akan memberi sinyal pada otak bahwa hidupmu masih terkendali, sehingga rasa cemas pelan-pelan berkurang.

Memiliki rasa cemas itu wajar dan manusiawi. Cemas adalah sinyal bahwa kamu peduli pada hidupmu. Yang tidak wajar adalah ketika kamu membiarkannya menguasai hidup tanpa berusaha mengelolanya.

Kesehatan mental bukan soal menjadi bahagia terus-menerus, tapi soal bagaimana kamu bisa tetap berjalan meskipun ada rasa cemas di dalamnya. Tidak apa-apa untuk pelan-pelan, tidak apa-apa untuk tidak selalu produktif, yang penting kamu tetap merawat dirimu sendiri dengan cara yang paling kamu bisa.