Banyak Gen Z yang baru pertama kali kerja umpah dengan gaji UMR merasa bingung dalam mengelola keuangannya. Pasalnya gaji baru masuk, tapi seminggu kemudian sudah tipis bahkan akhir bulan ada yang sampai berhutang atau pakai paylater. Padahal gen z pengen menabung, pengen punya dana darurat, tapi rasanya tidak mungkin dengan gaji segitu.
Padahal masalahnya bukan selalu di besar kecilnya gaji, tapi di cara mengaturnya. Ada metode simpel yang sudah dipakai banyak orang dan terbukti berhasil, yaitu metode 50/30/20. Tapi kalau diterapkan mentah-mentah versi luar negeri, jelas tidak cocok untuk anak kos di Indonesia.
Di artikel ini kita akan bedah metode 50/30/20 versi anak kos dengan gaji UMR, yang lebih realistis dan bisa langsung dipraktikkan.
Apa Itu Metode 50/30/20?
Metode ini diciptakan oleh Senator Elizabeth Warren. Intinya, gaji dibagi menjadi 3 pos besar.
50 persen untuk kebutuhan pokok, yaitu hal yang wajib dibayar agar bisa hidup. Contohnya kos, makan, transport, pulsa, dan listrik.
30 persen untuk keinginan, yaitu hal yang bikin hidup lebih enak tapi tidak wajib. Contohnya nongkrong, kopi kekinian, langganan Netflix, skincare tambahan, atau jajan baju.
20 persen untuk tabungan dan investasi, yaitu untuk masa depan. Contohnya dana darurat, tabungan, atau bayar utang.
Teorinya terlihat ideal. Tapi untuk Gen Z dengan gaji UMR 2 sampai 2,5 juta yang ngekos di kota besar, 50 persen untuk kebutuhan saja sering tidak cukup. Harga kos sudah 800 ribu sampai 1 juta, makan 900 ribu, belum transport. Jadi perlu dimodifikasi.
Metode 50/30/20 Versi Anak Kos yang Lebih Realistis
Kuncinya adalah fleksibilitas. Jangan patokan kaku 50/30/20, tapi buat versi yang sesuai kondisi.
Untuk gaji UMR 2.200.000 misalnya, kamu bisa ubah menjadi 60/20/20.
60 Persen untuk Kebutuhan Hidup = Rp 1.320.000
Ini pos terbesar dan tidak boleh diganggu. Rinciannya harus detail.
Kos 700.000 sampai 900.000, cari yang sudah termasuk air dan listrik agar lebih hemat. Makan 600.000, usahakan masak 2 sampai 3 kali seminggu atau bawa bekal untuk menghemat. Banyak anak kos berhasil makan 20 ribu sehari dengan masak nasi sendiri dan beli lauk di warteg.
Transport 200.000 sampai 300.000, manfaatkan transportasi umum atau motor dengan bensin yang diatur mingguan. Pulsa dan paket data 100.000.
Jika kebutuhanmu lebih dari 60 persen, tidak apa-apa naikkan jadi 65 persen. Yang penting kamu tahu batasnya dan tidak mengambil dari pos tabungan.
20 Persen untuk Keinginan = Rp 440.000
Ini pos yang paling sering bikin bocor. Gen Z mudah tergoda promo Shopee, TikTok Shop, dan ajakan nongkrong.
Agar tetap waras, pos keinginan ini wajib ada. Jangan dihilangkan total karena kamu akan stres dan akhirnya balas dendam belanja lebih besar. Tapi harus dikontrol.
Buat aturan, misalnya jatah kopi kekinian maksimal 4 kali sebulan, jatah nongkrong 2 kali sebulan, dan sisanya untuk langganan hiburan. Kalau ada keinginan dadakan seperti baju diskon, tunda 24 jam. Jika besok masih pengen, baru pertimbangkan beli dengan uang dari pos ini saja.
20 Persen untuk Tabungan = Rp 440.000
Ini pos yang paling penting meskipun jumlahnya paling kecil. Banyak yang berpikir nabung harus nunggu sisa uang, padahal harus dibalik. Tabung dulu di awal gajian, baru sisanya dipakai hidup.
Bagi dua pos tabungan ini. 10 persen untuk dana darurat dan 10 persen untuk tujuan masa depan.
Dana darurat wajib ada, terutama untuk anak kos. Minimal kumpulkan 3 kali pengeluaran bulanan. Jadi kalau pengeluaranmu 1,5 juta, target dana darurat 4,5 juta. Kumpulkan pelan-pelan 220.000 per bulan.
Sisanya 220.000 bisa untuk tabungan tujuan, misalnya untuk kursus skill, beli laptop, atau investasi reksadana mulai 10 ribuan. Jangan remehkan nominal kecil, yang penting konsisten.
3 Trik Biar Metode Ini Berhasil dengan Gaji UMR
1. Pisahkan Rekening di Awal Gajian
Begitu gajian, langsung pisahkan ke 2 atau 3 rekening berbeda. Rekening pertama untuk kebutuhan, rekening kedua untuk keinginan, dan rekening ketiga atau e-wallet terpisah untuk tabungan. Banyak bank digital yang gratis bikin banyak kantong. Dengan dipisah, kamu tidak akan tergoda memakai uang tabungan untuk jajan.
2. Catat Pengeluaran Harian, Cukup 2 Menit
Tidak perlu aplikasi ribet. Cukup catat di notes HP setiap malam. Tulis 3 pengeluaran terbesar hari itu. Dengan mencatat, kamu akan sadar ke mana uangmu pergi. Kebanyakan bocornya bukan di kos atau makan, tapi di jajan kecil 15 ribu sampai 25 ribu yang kalau ditotal sebulan bisa 500 ribu.
3. Terapkan Aturan No Buy 3 Hari dalam Seminggu
Pilih 3 hari dalam seminggu di mana kamu tidak boleh beli apapun selain makan dan transport. Misalnya Senin, Rabu, Jumat adalah hari no buy. Di hari itu kamu tidak boleh checkout e-commerce, tidak jajan kopi, dan tidak nongkrong. Trik ini sangat ampuh untuk melatih otot menahan keinginan dan bisa menghemat sampai 300 ribu per bulan.
Pada akhirnya, gaji UMR bukan alasan untuk tidak bisa nabung. Memang tidak bisa langsung nabung besar seperti gaji 10 juta, tapi dengan metode 60/20/20 versi anak kos ini, kamu tetap bisa punya dana darurat, tetap bisa jajan, dan tetap bisa bertahan hidup tanpa harus ngutang tiap akhir bulan. Kuncinya bukan di seberapa besar gajimu, tapi seberapa sadar kamu mengatur setiap rupiah yang masuk.
Mulai bulan depan, coba terapkan begitu gajian masuk. Pisahkan dulu, baru pakai. Pelan-pelan, tabunganmu akan terkumpul dan rasa cemas soal uang di akhir bulan akan jauh berkurang.






