nikmatullah.com – Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kreatif, melek teknologi, dan memiliki akses informasi yang sangat luas. Namun, di balik kelebihan tersebut, banyak dari Gen Z yang menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan pribadi. Gaji yang baru diterima sering kali cepat habis bahkan sebelum akhir bulan tiba. Kondisi ini bukan disebabkan oleh besar kecilnya gaji semata, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan keuangan yang kurang disadari. Kebiasaan boros yang dilakukan secara berulang dapat membuat kondisi finansial menjadi tidak stabil dan menghambat tercapainya tujuan jangka panjang seperti menabung, investasi, atau membeli aset.
Memahami kebiasaan boros yang sering dilakukan oleh Gen Z menjadi langkah awal untuk memperbaiki kondisi keuangan. Dengan mengenali pola pengeluaran yang tidak produktif, Gen Z dapat mulai melakukan perubahan kecil yang berdampak besar dalam jangka panjang. Berikut adalah lima kebiasaan boros Gen Z yang sering membuat gaji cepat habis dan perlu segera diperbaiki.
1. Kebiasaan Membeli Kopi dan Makanan Kekinian Secara Berlebihan
Kebiasaan pertama yang paling sering membuat gaji Gen Z cepat habis adalah membeli kopi dan makanan kekinian secara berlebihan. Pada tahun 2026, budaya nongkrong di kafe dan mencoba makanan viral di media sosial menjadi gaya hidup yang sangat populer. Satu gelas kopi kekinian berkisar antara Rp25.000 sampai Rp45.000, sedangkan satu porsi makanan viral seperti rice bowl, croffle, atau dessert box berkisar antara Rp30.000 sampai Rp60.000. Jika kebiasaan ini dilakukan setiap hari, pengeluaran bulanan untuk kopi dan makanan kekinian dapat mencapai Rp1.500.000 sampai Rp2.500.000.
Misalnya, seseorang yang membeli kopi dua kali sehari dengan harga Rp30.000 per gelas akan menghabiskan Rp60.000 per hari atau Rp1.800.000 per bulan hanya untuk kopi. Jumlah tersebut setara dengan 60 persen dari gaji tiga juta rupiah. Belum lagi ditambah dengan biaya makanan viral yang sering dipesan melalui aplikasi ojek online yang memiliki biaya tambahan untuk ongkos kirim dan biaya layanan.
Kebiasaan ini dipicu oleh pengaruh media sosial dan keinginan untuk mengikuti tren. Melihat teman atau influencer yang mengunggah foto kopi dan makanan kekinian membuat Gen Z merasa perlu untuk ikut mencoba agar tidak tertinggal. Padahal, banyak dari pengeluaran tersebut tidak memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kesehatan atau produktivitas. Mengurangi frekuensi membeli kopi dan makanan kekinian menjadi dua sampai tiga kali seminggu dan menggantinya dengan membuat kopi atau bekal dari rumah dapat menghemat hingga Rp1.000.000 sampai Rp1.500.000 per bulan yang dapat dialihkan untuk tabungan atau investasi.
2. Belanja Online Impulsif Karena Diskon dan Gratis Ongkir
Kebiasaan kedua yang membuat gaji cepat habis adalah belanja online impulsif yang dipicu oleh diskon besar dan gratis ongkir. Platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop secara rutin memberikan promo seperti flash sale, cashback, dan gratis ongkir yang sangat menarik bagi Gen Z. Godaan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan menjadi sangat besar ketika melihat label diskon 50 persen atau gratis ongkir tanpa minimal belanja.
Banyak Gen Z yang membeli pakaian, aksesori, skincare, atau gadget kecil hanya karena harganya terlihat murah, bukan karena benar-benar membutuhkan. Misalnya, membeli tiga baju dengan harga Rp50.000 per baju karena diskon, padahal lemari sudah penuh dengan pakaian yang jarang dipakai. Atau membeli produk skincare baru yang viral di TikTok meskipun produk lama masih tersisa banyak. Pengeluaran impulsif seperti ini jika dikumpulkan dalam satu bulan dapat mencapai Rp800.000 sampai Rp1.500.000.
Dampak dari belanja impulsif bukan hanya pada keuangan, tetapi juga pada penumpukan barang yang tidak terpakai di rumah. Banyak barang yang dibeli karena diskon akhirnya tidak pernah digunakan dan hanya menjadi sampah. Untuk mengatasi kebiasaan ini, Gen Z perlu menerapkan aturan 24 jam, yaitu menunda pembelian selama 24 jam sebelum memutuskan untuk membeli. Jika setelah 24 jam barang tersebut masih dirasa penting dan dibutuhkan, barulah lakukan pembelian. Selain itu, buat daftar belanja yang jelas dan patuhi daftar tersebut agar tidak tergoda untuk membeli barang di luar daftar.
3. Langganan Aplikasi dan Layanan Digital yang Tidak Terpakai
Langganan aplikasi dan layanan digital yang tidak terpakai secara maksimal. Gen Z pada tahun 2026 berlangganan berbagai layanan seperti streaming film, streaming musik, aplikasi edit foto premium, aplikasi belajar, dan penyimpanan cloud. Satu langganan berkisar antara Rp30.000 sampai Rp150.000 per bulan. Jika memiliki lima sampai tujuh langganan aktif, pengeluaran bulanan untuk langganan digital dapat mencapai Rp300.000 sampai Rp700.000.
Banyak dari langganan tersebut yang hanya digunakan beberapa kali dalam sebulan atau bahkan tidak digunakan sama sekali karena lupa atau karena sudah beralih ke aplikasi lain. Misalnya, berlangganan dua platform streaming film sekaligus namun hanya menonton di satu platform, atau berlangganan aplikasi edit foto premium padahal versi gratisnya sudah cukup memadai untuk kebutuhan sehari-hari.
Untuk mengatasi kebiasaan boros ini, lakukan audit langganan setiap tiga bulan sekali. Periksa semua langganan aktif dan evaluasi seberapa sering layanan tersebut digunakan. Jika dalam satu bulan hanya digunakan satu atau dua kali, pertimbangkan untuk berhenti berlangganan dan beralih ke versi gratis atau berbagi akun dengan keluarga yang memungkinkan sesuai ketentuan layanan. Dengan mengurangi dua sampai tiga langganan yang tidak penting, Gen Z dapat menghemat Rp200.000 sampai Rp400.000 per bulan.
Laporan perilaku keuangan digital dari Otoritas Jasa Keuangan tahun 2025 menyebutkan, pengeluaran untuk langganan digital yang tidak termanfaatkan secara optimal menjadi salah satu penyebab kebocoran keuangan terbesar pada generasi muda, dengan rata-rata pengeluaran mencapai 10 sampai 15 persen dari pendapatan bulanan untuk layanan yang jarang digunakan.
4. Gaya Hidup Nongkrong dan Hiburan Berlebihan
Memiliki gaya hidup nongkrong dan hiburan yang berlebihan. Gen Z sangat menghargai pengalaman dan kebersamaan, sehingga sering menghabiskan waktu dan uang untuk nongkrong di kafe, menonton konser, karaoke, atau liburan singkat setiap akhir pekan. Satu kali nongkrong di kafe bersama teman dapat menghabiskan Rp100.000 sampai Rp250.000 untuk makanan, minuman, dan transportasi. Jika dilakukan dua sampai tiga kali seminggu, pengeluaran untuk nongkrong dapat mencapai Rp1.000.000 sampai Rp2.000.000 per bulan.
Selain nongkrong, pengeluaran untuk hiburan seperti tiket konser, bioskop, dan liburan dadakan juga cukup besar. Tiket konser musik populer berkisar antara Rp300.000 sampai Rp1.500.000, belum termasuk biaya transportasi dan akomodasi. Liburan singkat ke luar kota setiap bulan dapat menghabiskan Rp500.000 sampai Rp1.500.000 tergantung destinasi dan gaya liburan.
Gaya hidup ini memang memberikan kebahagiaan dan pengalaman berharga, namun jika tidak dikelola dengan baik, dapat membuat keuangan menjadi tidak stabil. Solusinya adalah membuat anggaran khusus untuk hiburan, misalnya maksimal 10 persen dari gaji atau sekitar Rp300.000 untuk gaji tiga juta. Pilih kegiatan hiburan yang lebih hemat seperti piknik di taman, nonton film di rumah bersama teman, atau mencari acara gratis di kota. Dengan perencanaan yang matang, Gen Z tetap dapat menikmati hiburan tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok dan tabungan.
5. Tidak Memiliki Anggaran dan Mengabaikan Pencatatan Keuangan
Kebiasaan selanjutnya yang menjadi akar dari semua kebiasaan boros di atas adalah tidak memiliki anggaran dan mengabaikan pencatatan keuangan. Banyak Gen Z yang tidak pernah membuat anggaran bulanan dan tidak mencatat pengeluaran harian. Akibatnya, mereka tidak mengetahui ke mana uang mereka pergi dan merasa gaji selalu kurang meskipun sudah bekerja keras.
Tanpa anggaran, pengeluaran menjadi tidak terkontrol dan cenderung mengikuti keinginan sesaat. Misalnya, tanpa anggaran, seseorang akan mudah tergoda untuk membeli barang baru, makan di luar, atau mengikuti ajakan teman untuk nongkrong tanpa mempertimbangkan sisa uang yang ada. Tanpa pencatatan, kebocoran keuangan kecil seperti biaya parkir, jajan kecil, atau top up e-wallet tidak akan terlihat, padahal jika dikumpulkan dapat mencapai ratusan ribu rupiah per bulan.
Untuk mengatasi kebiasaan ini, buat anggaran sederhana di awal bulan dengan membagi gaji ke dalam beberapa pos, yaitu 50 persen untuk kebutuhan pokok, 20 persen untuk tabungan, 15 persen untuk investasi, 10 persen untuk hiburan, dan 5 persen untuk dana darurat. Catat setiap pengeluaran harian menggunakan aplikasi keuangan gratis atau buku catatan kecil. Evaluasi pengeluaran setiap akhir minggu untuk melihat pos mana yang boros dan perlu dikurangi.
Publikasi literasi keuangan dari Kementerian Keuangan tahun 2025 menjelaskan, individu yang memiliki anggaran tertulis dan melakukan pencatatan keuangan secara rutin memiliki tingkat keberhasilan menabung yang 40 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki anggaran, karena mereka lebih sadar terhadap pola pengeluaran dan lebih disiplin dalam mengelola pendapatan.
Sebenarnya Gen Z dapat menghemat hingga Rp1.500.000 sampai Rp3.000.000 per bulan jika bersedia mengubah kebiasaan borosnya dan uangnya dapat dialihkan untuk tabungan, investasi, atau tujuan finansial jangka panjang. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi kestabilan keuangan dan membantu Gen Z mencapai kemandirian finansial yang lebih baik di masa depan.
