nikmatullah.com – Fenomena resign atau pengunduran diri yang dilakukan oleh Gen Z dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian banyak perusahaan dan pengamat ketenagakerjaan. Pada tahun 2025 dan 2026, angka turnover atau perpindahan kerja di kalangan Gen Z tercatat lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Banyak Gen Z yang memutuskan untuk resign setelah bekerja selama beberapa bulan hingga satu tahun, bahkan meskipun belum memiliki pekerjaan pengganti. Keputusan tersebut sering kali dianggap tidak stabil atau kurang loyal, padahal di balik keputusan resign terdapat berbagai alasan yang berkaitan dengan perubahan nilai kerja, harapan terhadap lingkungan kerja, serta kondisi kesehatan mental yang perlu dipahami secara mendalam.
Gen Z merupakan generasi yang tumbuh dengan akses teknologi yang sangat luas, keterbukaan informasi, serta kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup. Oleh karena itu, harapan Gen Z terhadap pekerjaan tidak hanya sebatas gaji, tetapi juga mencakup makna pekerjaan, lingkungan yang sehat, serta kesempatan untuk berkembang. Berikut adalah enam alasan utama mengapa banyak Gen Z memutuskan untuk resign dari pekerjaan.
1. Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat dan Budaya Kerja yang Toxic
Alasan pertama yang paling sering menyebabkan Gen Z resign adalah lingkungan kerja yang tidak sehat dan budaya kerja yang toxic. Lingkungan kerja yang tidak sehat dapat berupa atasan yang sering melakukan tekanan berlebihan, rekan kerja yang tidak mendukung, komunikasi yang tidak jelas, serta adanya praktik senioritas yang berlebihan. Gen Z sangat menghargai rasa hormat, transparansi, dan kolaborasi. Ketika lingkungan kerja dipenuhi dengan gosip, saling menyalahkan, atau intimidasi, maka Gen Z cenderung tidak akan bertahan lama.
Budaya kerja yang mengharuskan lembur tanpa kompensasi yang jelas, tidak memberikan batas antara jam kerja dan jam pribadi, serta tidak menghargai waktu istirahat juga menjadi pemicu utama resign. Misalnya, atasan yang menghubungi karyawan di luar jam kerja untuk urusan yang tidak mendesak, atau perusahaan yang menganggap lembur sebagai bentuk loyalitas tanpa memberikan apresiasi yang layak. Gen Z yang memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya kesehatan mental akan memilih untuk meninggalkan lingkungan yang membuat mereka merasa tertekan dan tidak dihargai.
Lingkungan kerja yang tidak sehat tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga pada kesehatan fisik dan mental. Stres yang berkepanjangan akibat lingkungan toxic dapat menyebabkan gangguan tidur, kecemasan, dan penurunan motivasi kerja. Oleh karena itu, banyak Gen Z yang lebih memilih resign untuk menjaga kesehatan mental daripada bertahan dalam lingkungan yang merugikan.
2. Tidak Ada Keseimbangan Antara Kerja dan Kehidupan Pribadi
Tidak adanya keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi atau work life balance. Gen Z sangat menghargai waktu untuk keluarga, hobi, istirahat, dan pengembangan diri di luar pekerjaan. Jika sebuah pekerjaan menuntut karyawan untuk selalu tersedia, bekerja di akhir pekan tanpa jadwal yang jelas, atau tidak memberikan cuti yang memadai, maka Gen Z akan merasa bahwa pekerjaan tersebut mengambil terlalu banyak ruang dalam hidupnya.
Pada tahun 2026, banyak Gen Z yang bekerja di sektor kreatif, teknologi, dan layanan yang memiliki jam kerja fleksibel namun pada kenyataannya tetap dituntut untuk bekerja melebihi jam kerja normal. Misalnya, pekerjaan yang seharusnya selesai pada pukul 17.00 namun sering diperpanjang hingga pukul 21.00 tanpa perencanaan. Kondisi seperti ini membuat Gen Z merasa kelelahan dan kehilangan waktu untuk diri sendiri.
Keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi bukan berarti Gen Z tidak mau bekerja keras, melainkan mereka menginginkan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka ingin dapat bekerja dengan fokus pada jam kerja dan beristirahat dengan tenang di luar jam kerja. Perusahaan yang mampu memberikan fleksibilitas, seperti opsi kerja hybrid, cuti yang mudah diajukan, dan penghargaan terhadap waktu pribadi, akan lebih mampu mempertahankan karyawan Gen Z.
3. Gaji Tidak Sesuai dengan Beban Kerja dan Keterampilan
Gaji yang tidak sesuai dengan beban kerja dan keterampilan yang dimiliki. Banyak Gen Z yang memiliki keterampilan digital, kemampuan bahasa asing, serta kreativitas yang tinggi, namun mendapatkan gaji yang dianggap tidak sebanding dengan kontribusi yang diberikan. Ketika beban kerja terus bertambah, tanggung jawab semakin besar, namun gaji tetap stagnan tanpa adanya evaluasi yang jelas, maka motivasi kerja akan menurun dan keputusan untuk resign menjadi pilihan yang logis.
Gen Z juga memiliki akses informasi yang luas mengenai standar gaji di pasaran melalui platform seperti LinkedIn, Jobstreet, dan Glassdoor. Mereka dapat membandingkan gaji yang diterima dengan gaji di perusahaan lain untuk posisi yang serupa. Jika terdapat kesenjangan yang signifikan antara gaji yang diterima dengan standar pasar, maka Gen Z akan cenderung mencari peluang di tempat lain yang lebih menghargai keterampilan mereka.
Selain gaji pokok, Gen Z juga memperhatikan tunjangan lain seperti asuransi kesehatan, tunjangan transportasi, dan bonus kinerja. Jika perusahaan tidak memberikan tunjangan yang memadai atau tidak transparan dalam sistem penggajian, maka kepercayaan karyawan akan menurun. Gaji yang adil dan transparan menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan Gen Z di perusahaan.
Laporan ketenagakerjaan dari Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2025 menyebutkan, ketidakseimbangan antara beban kerja, kompensasi, dan lingkungan kerja menjadi tiga faktor utama yang menyebabkan tingginya angka resign di kalangan pekerja muda, terutama pada usia 20 sampai 27 tahun yang mendominasi kelompok Gen Z di dunia kerja.
4. Minimnya Kesempatan Pengembangan Karir dan Pembelajaran
Minimnya kesempatan pengembangan karir dan pembelajaran. Gen Z memiliki keinginan yang kuat untuk terus belajar dan berkembang. Mereka tidak hanya ingin bekerja untuk mendapatkan gaji, tetapi juga ingin memperoleh keterampilan baru, pengalaman yang berharga, dan jalur karir yang jelas. Jika sebuah perusahaan tidak memberikan pelatihan, tidak ada jenjang karir yang terstruktur, atau tidak memberikan kesempatan untuk mencoba tantangan baru, maka Gen Z akan merasa stagnan dan tidak berkembang.
Misalnya, seorang karyawan yang bekerja selama satu tahun namun tidak pernah mendapatkan pelatihan, tidak pernah diberikan proyek baru, dan tidak ada diskusi mengenai rencana pengembangan karir akan merasa bahwa masa depannya di perusahaan tersebut tidak jelas. Gen Z yang memiliki ambisi tinggi akan memilih untuk resign dan mencari perusahaan yang lebih peduli terhadap pengembangan karyawan.
Pengembangan karir tidak selalu berarti promosi jabatan, tetapi juga dapat berupa kesempatan untuk mengikuti workshop, mendapatkan mentor, atau terlibat dalam proyek lintas divisi. Perusahaan yang aktif memberikan kesempatan belajar akan membuat karyawan merasa dihargai dan memiliki tujuan yang jelas. Sebaliknya, perusahaan yang tidak peduli terhadap pengembangan karyawan akan kehilangan talenta muda yang berpotensi.
5. Nilai Perusahaan Tidak Sejalan dengan Nilai Pribadi
Ketidaksesuaian antara nilai perusahaan dengan nilai pribadi Gen Z. Gen Z merupakan generasi yang sangat peduli terhadap isu-isu sosial, lingkungan, dan etika. Mereka cenderung memilih perusahaan yang memiliki nilai yang sejalan dengan prinsip mereka, seperti kepedulian terhadap lingkungan, keberagaman, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Jika sebuah perusahaan memiliki praktik yang tidak etis, seperti tidak ramah lingkungan, tidak menghargai keberagaman, atau melakukan praktik bisnis yang merugikan konsumen, maka Gen Z akan merasa tidak nyaman untuk tetap bekerja di sana. Misalnya, perusahaan yang tidak memiliki kebijakan pengelolaan limbah yang baik, atau perusahaan yang melakukan diskriminasi terhadap karyawan tertentu, akan membuat Gen Z merasa bahwa bekerja di sana bertentangan dengan nilai pribadi.
Gen Z juga memperhatikan bagaimana perusahaan memperlakukan karyawannya. Perusahaan yang hanya fokus pada keuntungan tanpa memperhatikan kesejahteraan karyawan, keseimbangan kerja, dan kesehatan mental akan dianggap tidak sejalan dengan nilai kemanusiaan yang dijunjung oleh Gen Z. Oleh karena itu, banyak Gen Z yang memilih resign untuk mencari perusahaan yang lebih memiliki visi yang positif dan bertanggung jawab secara sosial.
6. Keinginan untuk Mencoba Hal Baru dan Menjadi Mandiri
Keinginan untuk mencoba hal baru dan menjadi mandiri. Gen Z dikenal sebagai generasi yang berani mengambil risiko dan tidak takut untuk mencoba jalur yang berbeda. Banyak Gen Z yang resign bukan karena membenci pekerjaan lamanya, melainkan karena ingin mencoba menjadi freelancer, membuka usaha kecil, menjadi content creator, atau melanjutkan pendidikan.
Pada tahun 2026, peluang untuk menjadi mandiri semakin terbuka lebar berkat perkembangan teknologi dan platform digital. Gen Z dapat menghasilkan pendapatan dari berbagai sumber seperti afiliasi e-commerce, jasa desain, penulisan konten, atau penjualan produk digital. Keinginan untuk memiliki kendali penuh atas waktu dan penghasilan membuat banyak Gen Z memilih untuk keluar dari pekerjaan tetap dan mencoba jalur wirausaha atau kerja lepas.
Keinginan untuk mencoba hal baru juga berkaitan dengan pencarian makna hidup. Gen Z tidak ingin terjebak dalam rutinitas yang monoton tanpa makna. Mereka ingin mengeksplorasi minat, bakat, dan passion yang dimiliki. Resign menjadi langkah awal untuk menemukan pekerjaan atau kegiatan yang lebih sesuai dengan minat pribadi dan memberikan kepuasan batin yang lebih besar.
Publikasi tren ketenagakerjaan dari Organisasi Perburuhan Internasional tahun 2025 menjelaskan, generasi muda pada tahun 2024 hingga 2025 menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi untuk mencari pekerjaan yang bermakna, fleksibel, dan sejalan dengan nilai pribadi, serta lebih berani untuk meninggalkan pekerjaan yang tidak memenuhi harapan tersebut demi kesehatan mental dan pengembangan diri jangka panjang.
Gen Z menginginkan pekerjaan yang tidak hanya memberikan gaji, tetapi juga memberikan makna, penghargaan, kesehatan mental yang terjaga, serta kesempatan untuk tumbuh. Bagi perusahaan, memahami alasan-alasan tersebut menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, adil, dan mampu mempertahankan talenta muda yang berpotensi besar di masa depan.
